bicara tentang pandemi tentu tidak aka ada habisnya mulai
dari warung kopi emperan jalan sampai ke café elit ber AC bahasan tentang
pandemi tidak akan ada habisnya. Dan bahasan pandemi pasti lebih banyak kepada
mereka yang percaya atau tidak percaya dengan kejadian ini. Meskipun disisi
lain bagaimanapun harus diakui pemerintah kita cenderung konyol dalam menangani
pandemi virus ini dan terlihat seolah – olah telah mengambil kesempatan dalam
kesempitan.
Seperti kita ketahui bersama, Sudah sejak satu tahun
terakhir kita dilanda pandemic yang berujung pada keadaan panceklik seperti
yang kita alami sampai hari ini. Efek pandemic hampir dirasakan oleh semua
golongan masyarakat Indonesia khususnya pada kelas ekonomi menengah kebawah,
ada yang mampu bertahan adapula yang harus gulung tikar, ada yang masih bekerja
dengan upah minim ada juga yang harus rela menerima nasib sebagai pengangguran
setelah di PHK.
Ada nggak sih diantara para pembaca yang budiman disini yang
memperhatikan situasi di piala EURO 2021 ini. setalah prancis pulang kampung,
satu – satunya hal yang menjadi perhatian saya adalah protocol kesehatan.
Apabila sorot camera mengarah ke kursi penonton/supporter. Dimana tidak ada
satu orang pun yang berusaha menjaga jarak ataupun sekedar memakai masker. Yang
menjadi perhatian saya adalah EURO 2021 adalah kompetisi bergengsi dunia dan
menghadirkan orang dari puluhan Negara peserta yang masing – masing diikuti
oleh pendukungnya.
Tapi kenapa seolah – olah tidak ada lagi upaya pemberlakuan
protocol kesehatan, dimana belum lama ini tim bulu tangkis kita (Indonesia) harus
dipulangkan dari inggris tanpa mengikuti satu-pun pertandingan? Ini menjadi
catatan penting yang sedang dipelajari oleh Kang Dikin (Salah satu pedagang
sate keliling yang sering lewat di depan rumahku).
Pembatasan sosial pun diberlakukan mulai dari pembatasan
mobilitas orang yang menyebabkan kerumunan, penyemprotan disinfektan disegala
sisi pemukiman warga hingga ke jalan – jalan yang menurut WHO adalah sebuah
tindakan konyol, pemberlakuan Work From Home (WFH), Belajar dari Rumah meskipun
kebanyakan siswa di Indonesia bagian Timur utamanya papua belum terjangkau
jaringan internet, penutupan pasar swalayan, tempat hiburan malam, kawasan
wisata, hingga penutupan rumah – rumah ibadah dan pembatasan perayaan hari –
hari besar dan penangkapan orang yang dengan sengaja mengadakan kerumunan.
Meskipun pemerintah mengeluarkan kebijakan progresif seperti
Bantuan Langsung Tunai, kursus keahlian melalui kartu prakerja, bantuan untuk
para pengusaha UMKM, penagguhan kredit bank dan lain – lain. Sepertinya itu
tidak memberikan pengaruh yang signifikan kecuali pertumbuhan jumlah hutang
Negara yang makin membengkak.
anehnya disaat penyebaran virus ini tengah mengganas
pemerintah justru menggenjot pembahasan UU Cipta Kerja yang direncanakan akan
menjadi senjata pamungkas untuk pemulihan ekonomi pasca pandemic. Walau diguyur
aksi demonstrasi dari beberapa lapisan masyarakat yang menolak, tetap tidak
mengendurkan niat pemerintah untuk meneken Omnibus Law tersebut menjadi produk UU
Cipta kerja. Walaupun hampir setahun pasca diresmikan tidak ada kemajuan yang
signifikan kecuali makin menguatnya cengkraman oligarki terhadap arah kebijakan
Negara
Bahkan dalam pengesahannya, UU Cipta Kerja sempat diwarnai
oleh skill tersembunyi dari ketua DPR RI yang ternyata bisa mematikan mic
Anggota Sidang yang sedang menyampaikan pendapatnya karena hanya membuang waktu
saja. Dan menghambat laju demokrasi baru yang sedang dipertontonkan Negara
melalui cucu sang Proklamator Bangsa.
Bahkan gelombang protes yang muncul kemudian harus direpresi
Karena dianggap melanggar prokes serta alasan bahwa masih banyak jalan
demokratis lainnya yang bisa ditempuh ketimbang membahayakan diri dan keluarga
dengan berkumpul dan berpanas – panasan dijalan raya. Kecuali Pilkada serentak
memang tidak bisa ditunda karena itu menyangkut hayat hidup orang yang berada
di lingkup kekuasaan serta hayat hidup orang banyak.
Salah satu solusi yang ditawarkan presiden adalah dengan
memasukkan gugatan uji materi ke mahkamah konstitusi. Meskipun yang
mengikutinya harus menemui nestapa Karena belum lama ini presiden sendiri telah
menginstruksikan ke mahkamah konstitusi untuk menolak segala gugatan tentang
omnibus law.
Celakanya lagi ditengah pandemi yang begitu menghebohkan
ini, seolah mendapat sinyal dari pelemahan KPK yang sudah berjalan sejak dua
tahun terakhir. para cukong dan lintah darat masih sempat untuk melaksanakan
akal bulusnya melakukan korupsi dana bansos dan pengadaan alat rapid test
palsu. Sungguh kelakuan yang sangat tidak terpuji kecuali itu atas
sepengetahuan atasan atau sekedar meniru apa yang terjadi di level yang lebih
tinggi.
terlepas dari semua itu meskipun disertai dengan data yang
sangat tidak jelas. Harus diakui Indonesia adalah salah satu Negara yang paling
terdampak oleh infeksi virus yang berasal dari wuhan ini. Walau tercatat
sebagai salah satu Negara yang tecepat dalam mendatangkan vaksin untuk
menangani wabah, tetap saja Indonesia masih menjadi salah satu Negara yang di
blacklist oleh pemerintah arab Saudi untuk pelaksanaan haji 2021.
Dan salah satu pertanyaan yang belum terjawab sampai hari
ini adalah mengapa pemerintah kita terkesan plin – plan dalam penanganan wabah
virus ini dan terkesan seperti memanfaatkan keadaan untuk mencuri kesempatan?.
apakah virus corona ini benar benar ada atau hanya akal – akalan semata untuk
memuluskan akal bulus??.
Ataukah memang program yang diusung pemerintah dalam
penanganan wabah hanya sebatas tindakan spontanitas dan tidak didasari atas
kajian mendalam untuk perumusan kebijakan yang lebih strategis, ataukah karena
pondasi ekonomi yang terbangun tidak cukup kokoh untuk menjadi sandaran bagi
pengetatan perlindungan terhadap rakyat?
Apapun itu mari kita berharap Pemberian vaksin untuk
menciptakan herd immunity benar – benar menjadi solusi yang kongkrit dari
pemerintah untuk menyelesaikan pandemi ini. Walaupun banyak pihak yang
meragukan jenis vaksin yang didatangkan, serta ada banyak kejadian warga yang
secara kebetulan harus meregang nyawa secara tiba – tiba tidak lama setelah
vaksinasi. Dan ada banyak pihak yang menilai bahwa tujuan akhir dari vaksinasi
ini adalah herd stupidity yang terjadi seiring dengan semakin berkurangnya
tingkat kepercayaan rakyat terhadap pemerintah.
Banyak rakyat yang menolak untuk divaksin Karena termakan
oleh pengaruh kampanye – kampanye yang menilai produk vaksin yang didatangkan
adalah tidak layak dan masih dalam tahap percobaan (Kita jadi kelinci percobaan
cuk) serta vaksin yang didatangkan tidak memenuhi syarat uji klinis dan haram. Tapi
meskipun begitu tidak ada jaminan kepastian apakah kampanye itu adalah
sepenuhnya salah ataukah sebaliknya.
So, terkait dengan pertanyaan yang belum terjawab diatas,
mari kita memikirkannya bersama – sama dengan memperbanyak referensi dari
sumber terpercaya, itung – itung untuk mengisi waktu luang dalam menjalani masa
pembatasan sosial ini. Sambil menantikan kebijakan apalagi yang akan diambil
pemerintah untuk menyelesaikan wabah ini. Dengan harapan Semoga apa yang
diwacanakan pemerintah bukanlah kebalikan dari pelaksanaannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar