
foto : aksi demonstrasi peringatan hari pancasila
Berbicara tentang budaya sudah pastilah sebagai kaum intelektual kita sudah tidak asing lagi dengan perkataan yang satu ini, budaya merupakan suatu kebiasaan yang dilakukan oleh para pendahulu kita dan diturunkan kepada generasi secara terus menerus dan budaya juga adalah sebuah ciri khas suatu peradaban atau kelas sosial jadi jika kita kehilangan budaya bisa berarti juga bahwa kita sedang kehilangan jati diri kita.
Nah, mahasiswa adalah salah satu kelas sosial dalam masyarakat dimana mereka di identikkan dengan kata berpendidikan, kritis, serta peka terhadap kondisi dosial di lingkungan tempat ia berada, bahkan pada periode2 pasca kemerdekaan dan orde baru jika rakyat mendengar kata mahasiswa, yang terlintas di fikiran mereka adalah rasa kagum bercampur iri, mengingat karena pada saat itu tidak banyak orang yang berkesempatan untuk menjadi seorang mahasiswa, dan itu sudah berbanding terbalik hari ini dimana kita hanya diidentikkan dengan kata apatis dan modernis.
Lalu apa budaya mahasiswa kini? pertanyaan sederhana namun menohok seperti ini adalah bahasa sehari - hari yang sering mewarnai debat panas di pangkalan ojek, sudut terminal, dan warung kopi di pojok pasar ketika sedang membahas isu isu yang seharusnya disuarakan namun sang juru bicara sedang sibuk main game. bukan hanya sebagai candaan belaka namun lebih kepada kritik kepada mereka penghuni kelas pelopor perubahan itu.
Arus globalisasi serta kebebasan yang kebablasan adalah salah satu pemicu yang paling berpengaruh dalam pergeseran orientasi budaya kaum intelektual kita. perkembangan teknologi yang pesat menciptakan akses yang semakin mudah. namun dengan kemudahan ini ternyata tidak berbanding lurus dengan keinginan untuk mempelajari ilmu pengetahuan yang lebih dalam. kemudahan arus informasi justru di terjemahkan sebagai kemudahan untuk mengakses konten - konten yang bersifat hedon, yang diadopsi dari gaya hidup orang - orang negara maju seperti amerika dan eropa.
Situasi yang sangat nyaman, hingga membuat kita menjadi lupa akan tugas sejarah kita yang masih sangat jauh dan bahkan mundur kebelakang. kebebasan yang telah diperjuangkan generasi pendahulu justru dimaknai sebagai kebebasan untuk bersikap apatis dan tidak peduli dengan mereka yang membutuhkan kehadiran kita. kebebasan tidak lagi berbicara soal berserikat, berkumpul, menyatakan pendapat dimuka umum. semua slogan tersebut hilang terkubur didalam ruang - ruang kafe dan turnamen game online.
semua itu ditunjang oleh sistem pendidikan yang diterapkan. sistem pendidikan kita lebih sebagai mesin pencetak tenaga kerja yang terampil dan penurut untuk menjamin kelangsungan akumulasi kapital para korporasi. alih - alih sebagai media untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang bermuara pada kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat. setidaknya ada beberapa indeks yang bisa menjadi tolak ukur seseorang yang telah lulus dari sebuah proses belajar formal (Sekolah/Kuliah) seperti ; membaca, menulis, berdiskusi, serta berorganisasi dan pengabdian diri.
Membaca.. Merupakan sebuah kegiatan atau mengaktualisasikan dan sudah merupakan bagian yang tidak terlepas jika kita menyebutkan kata mahasiswa, namun yang hari ini terjadi justru budaya itu sudah hampir punah bahkan dari study yang dilakukan oleh connecticut university di amerika pada tahun 2016 lalu indonesia menempati peringkat 60 dari 61 negara yakni berada dibawah thailand yg berada di posisi 59 dan di atas bostwana yang berada di peringkat terakhir padahal dari segi infrastruktur indonesia berada pada urutan ke 34 pada studi itu, salah satu penyebabnya adalah kemajuan teknologi yang bukannya mendongkrak minat baca, malah menurunkan bahkan meniadakan minat baca di kalangan mahasiswa, kita hanya disibukkan dengan game, update status, dan lain sebagainya....
Menulis, kita tahu bahwa karya2 tulis yang tertuang dalam sebuah buku kebanyakan adalah hasil karya mahasiswa, karena menulis merupakan sebuah ajang atau tempat bagi para mahasiswa untuk menuangkan hasil pemikiran yang didapat dari membaca, tapi jangankan ingin menulis, membaca saja kita sudah tidak pernah lagi....
Berdiskusi yang dimaksud disini adalah diskusi ilmiah (bukan debat kusir) ini adalah salah satu budaya mahasiswa yang hampir punah, karena berdiskusi itu seyogianya dilakukan adalah untuk saling bertukar fikiran dari apa yang kita pelajari, dan juga sebagai ajang latihan untuk membuat kita lancar dalam menggunakan bahasa baku dan berbicara di depan umum, namun sayang sekali, dengan kemajuan teknologi kita justru dihadapkan pada budaya individualistik dengan hanya berfokus pada gadget untuk bersosial media dan kalaupun ada waktu untuk bertemu dengan teman, kita hanya sibuk membicarakan gosip terhangat di dunia maya dan berkeluh kesah tentang keganasan dosen didalam kelas
Berorganisasi adalah sebuah keharusan bagi mahasiswa dimana organisasi baik itu dalam ataupun diluar kampus adalah wadah mahasiswa untuk menyalurkan ide dan gagasan serta sebagai tempat berproses dalam menumbuhkan daya kritis, kepekaan dalam melihat realita sosial ekonomi, politik dan budaya sekitar serta mengkritisi kebijakan2 pemerintah yang dinilai tidak pro rakyat, belajar untuk berdisiplin dan turun langsung ke masyarakat untuk bercengkramah dan membantu jika mereka punya persoalan2 yang diluar kemampuan mereka seperti kesewenang2an yg dilakukan oleh aparatur negara ataukah kebijakan2 pemerintah yang tidak berpihak kepada mereka serta ada banyak materi materi organisasi yang tidak akan pernah kita dapatkan dalam dunia kampus dan semua hal itu merupakan bekal untuk siap terjun ke masyarakat nantinya.
Mengenai budaya mahasiswa yang telah dipaparkan itu juga sangat berkesinambungan dengan tri dharma perguruan tinggi yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian dan semua itu adalah bentuk representasi dari budaya mahasiswa tadi jika kita ingin memaparkannya sedikit seperti pendidikan adalah sebuah hal yang mutlak untuk menjamin kita sebagai insan cerdas dan pemangku peradaban, penelitian adalah sebuah studi yang dilakukan untuk meneliti masalah ilmu pengetahuan untuk perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri, dan penelitian yang dilakukan di lingkungan sosial kita yang hanya bisa dilakukan dengan turun langsung dan berbaur di tengah - tengah masyarakat dan kemudian memberikan solusi dan membantu memecahkan masalah mereka, dan terakhir adalah pengabdian, mengawali penjelasan tentang pengabdian ini, apakah kita akan mengabdi kepada masyarakat jika tidak diharuskan untuk ber KKN.????
Pengabdian adalah bukan hanya untuk kampus atau sebatas melakukan studi KKN di masyarakat, pengabdian seutuhnya adalah ketika kita mampu berbaur di tengah - tengah masyarakat untuk membagikan apa yang telah kita dapat dalam bentuk kursus atau pendidikan yang selaras dengan kebutuhan mereka lalu kemudian mampu untuk mengorganisir masyarakat dalam bentuk melindungi dan mempertahankan hak - hak mereka serta mengajak mereka untuk bekerja untuk perbaikan nasib ke depannya..
Itulah sedikit pemaparan tentang budaya mahasiswa kini, semoga dapat menjadi bahan atau referensi kita untuk kembali menumbuhkan dan melestarikan budaya progresif yang hampir punah.
Banyak orang yang ingin jadi mahasiswa, tapi hanya sedikit yang terpilih untuk menyelami dalamnya sumur ilmu pengetahuan itu. Manfaatkanlah kesempatan ini, jangan sampai dunia kampus hanya menjadi tembok penjara yang mengurung kita dari dunia luar, tempat realitas sosial sebenarnya berjalan.
mahasiswa adalah motor penggerak roda sejarah, dan pemangku peradaban dan kita adalah mahasiswa.... Bung Karno pernah berkata "beri aku 1000 orang tua niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, beri aku 10 pemuda dan akan kuguncangkan dunia". sekarang Mahasiswa dan pemuda itu adalah kita, lalu Apakah kita akan menjadi penonton sejarah saja atau bangkit dan menjadi pelaku sejarah itu sendiri, sehingga kita mampu untuk menjadi pemegang estafet kepemimpinan di masa depan, karena orang tua kita hari ini hanya akan duduk berpangku tangan tanda sudah tak mampu.
Dan ingatlah wahai saudaraku sekalian, Tuhan Tidak Akan mengubah nasib suatu bangsa. sebelum bangsa itu merubah nasibnya sendiri (bung Karno)..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar